Penyakit Meniere

Penyakit Meniere ditandai oleh serangan vertigo yang berulang dan berlangsung dari beberapa menit sampai beberapa hari, disertai oleh tinitus dan pekak yang progresif. Pada 3/4 kasus penyakit mulai pada usia 20 - 50 tahun, dan pria lebih sering daripada wanita. Penyebabnya mungkin oleh meningkatnya volum endolimf di labirin (endolymphatic hydrops), namun mekanisme patogenesisnya belum terungkap dengan baik.

Penyakit Meniere

Penumpukan endolimf yang berlebihan ini mungkin disebabkan oleh berkurangnya resorpsi oleh kantong endolimf. Penyakit Meniere juga dinamai sebagai "hidrops endolimfatik". Endolimf berhubungan dengan bagian vestibular dan koklear dari telinga-dalam.

Pada penyakit Meniere diduga bahwa volum endolimf yang meningkat mengakibatkan membran labirin robek dan endolimf yang mempunyai kadar kalium yang tinggi menjadi bercampur dengan perilimf yang kadar Kaliumnya rendah. Robekan ini mengakibatkan gejala dari penyakit Meniere, yaitu: tinitus, pendengaran berkurang, vertigo dan rasa tertekan atau rasa penuh di telinga. Pada fase dini, menurunnya pende­ngaran berfluktuasi dan pendengaran pulih kembali setelah robekan sembuh. Dengan melanjutnya penyakit, menurunnya pendengaran bertambah berat dan dapat menetap. Dengan bertambah buruknya pendengaran, maka vertigo cenderung men­jadi kurang berat. Penyakit Meniere biasanya melibatkan satu sisi telinga (pada kira-kira 90% kasus). Kita mendengar dengan 2 telinga. Sering penderita tidak mengeluhkan pendengaran yang berkurang.

Menurunnya pendengaran dapat dengan mudah dideteksi melalui pemeriksaan yang sederhana, misalnya tes suara bisikan, detik jam atau dengan menggunakan garpu tala. Walaupun pekak, penderita sering kurang toleran terhadap suara yang keras pada telinga yang pekak ketimbang pada telinga yang sehat ("recruitment"). Tinitus dapat mendahului serangan vertigo pertama selama berminggu-minggu atau berbulan, atau hanya dirasakan sewaktu serangan vertigo akut.

Sering, pada fase dini, tinitus bersifat intermiten, timbul terutama sewaktu serangan. Namun, kemudian menjadi konstan, hanya intensitasnya yang meningkat sewaktu serangan. Bunyi tinitus bervariasi; sering bernada rendah, bergemuruh atau mendesis.

Gejala atau gangguan utama pada penyakit Meniere ialah vertigo. Sewaktu serangan, penderita merasa atau melihat ruangan di sekitarnya berputar, atau ia sendiri terasa berputar dalam ruangan yang diam. Sewaktu serangan penderita tidak mampu duduk atau jalan karena rasa berputar yang dialaminya. Ia terpaksa tidur diam, dengan kepala difiksasi pada posisi yang menyenangkannya, menghindari segala gerakan kepala, sebab gerakan kepala dapat memperburuk sensasi gerakan.

Pemeriksaan fisik sewaktu serangan akut berlangsung menunjukkan adanya nistagmus spontan yang horizontal atau rotatoar atau keduanya. Di antara serangan, atau di luar serangan, tidak didapatkan nistagmus spontan, namun tes kalori biasanya menunjukkan adanya gangguan vestibular.

Gangguan pendengaran yang ringan kadang-kadang tidak terdeteksi pada pemeriksaan fisik rutin. Pada pemeriksaan audiometri dapat ditemukan hilangnya pendengaran daripada nada murni berfrekuensi rendah, yang berfluktuasi, demikian juga di­dapatkan gangguan pada diskriminasi bahasa. Sensitivitas terhadap bunyi yang keras dapat meningkat, yaitu menjadi bertambah peka terhadap bunyi keras.

Gejala gangguan saraf otonom yang terkait dengan labirin, seperti pucat, keringat dingin, enek (nausea) dan muntah biasanya didapatkan. Bertambah berat serangan vertigo, bertambah berat pula gangguan saraf otonom. Frekuensi, berat serta lamanya seran­gan berbeda-beda antar penderita dan juga pada penderita yang sama. Vertigo dapat timbul mendadak tanpa gejala pemula atau dapat didahului oleh gejala pemula (aura). Aura dapat berbentuk rasa penuh di telinga, tinitus yang meningkat atau tuli yang ber­tambah. aura kemudian diikuti oleh sensasi berputar. Bergantung pada beratnya serangan, vertigo dapat berlangsung beberapa menit sampai berjam-jam. Sering manifestasi akut serangan berlangsung 1 - 3 jam. Selain tinitus, vertigo, pekak serta gangguan otonom yang terkait, biasanya tidak dijumpai gejala neurologi lain pada penyakit Meniere. Pada permulaan serangan gerak nistagmus biasanya ke arah telinga yang terlibat (iritatif), dan pada tahap lebih lanjut dari serangan maka arah nistagmus ialah menjauhi telinga yang terlibat (paralitik). Bila serangan reda, tidak dijumpai lagi nistagmus.

Pada fase remisi (reda) tes kalori memberikan hasil hipofungsi organ vestibular atau hasil tes dapat pula normal. Waktu melakukan tes kalori, penting menanyakan apakah penderita mengalami vertigo yang sama dengan serangannya. Sensasi yang dirasakan sewaktu tes kalori harus serupa dengan sensasi vertigo yang dialami sewaktu serangan. Bila labirin tidak berreaksi terhadap air es, atau bila vertigo yang dialami tidak serupa dengan vertigo sewaktu serangan, maka penyakit yang lain dari Meniere harus dipertimbangkan dan ditelusuri. Bila dijumpai pula keluhan nyeri kepala yang mencolok, atau ditemukan kesadaran yang menurun atau serangan kejang, maka harus dipikirkan penyakit SSP (Susunan Saraf Pusat) yang Iain yang mungkin lebih serius.

Terapi penyakit Meniere belum memuaskan. Belum dite­mukan obat yang khusus. Namun pada sebagian besar kasus ge­jala dapat di tanggulangi dan diringankan. Terapi medik mempunyai 2 tujuan, yaitu:
meringankan serangan vertigo, dan mengusahakan agar serangan tidak kambuh, atau masa kambuh menjadi lebih jarang.Description: Penyakit Meniere Rating: 4.5 Reviewer: Anev ItemReviewed: Penyakit Meniere

Sobat suka artikel Penyakit Meniere ini dan ingin meng copy? Silahkan asal cantumkan sumber, Jika ingin mendapat kiriman artikel terbaru secara Gratis masukkan email sobat dibawah. Terimakasih
Feed KabehInfo

0 comments — Skip to Comment Box

Post a Comment