Hubungan Depresi dan Diabetes Melitus

Penelitian empiris pada saat ini menunjukkan adanya prevalensi depresi yang tinggi pada populasi diabetes melitus. Alasan mengapa prevalensinya tinggi belum dapat dijelaskan sepenuhnya. Terdapat dua hipotesis yang menerangkan terjadinya dan berulangnya depresi pada pasien diabetes melitus, yaitu:

Hubungan Depresi dan Diabetes Melitus

  • Depresi terjadi sebagai hasil perubahan biokimia akibat langsung dari diabetes atau terapinya. Hipotesis ini didasari beberapa penemuan sebagai berikut: a). Pada DM type I depresi mengikuti terjadinya DM type I, sedangkan pada DM type II depresi mendahului diagnosis DM type II (menjadi risiko terjadinya DM type II) walaupun pada perjalanan DM yang lanjut dapat menimbulkan depresi; b). Depresi terjadi lebih tinggi pada tahun pertama diketahuinya diabetes. Rata-rata onset depresi pada DM type I terjadi pada umur 22-23 tahun, sedangkan onset DM-nya terjadi pada usia lebih muda; c). Pada sebagian besar pasien DM, ditemukan adanya gangguan perasaan yang atipik (79% pasien diabetes mengalami gangguan perasaan); d). Adanya bahan biologi yang sama-sama didapat pada pasien diabetes maupun depresi yaitu peningkatan produksi kortisol, gangguan metabolisme neurotransmiter norepinefrin dan serotonin, berkurangnya pemakaian glukosa dan meningkatnya resistensi insulin; e). Beberapa penelitian menunjukkan meningkatnya depresi pada pasien diabetes dengan komplikasi. 
  • Depresi terjadi akibat faktor psikologis dan psikososial yang berhubungan dengan penyakit atau terapinya. Depresi pada diabetes terjadi akibat meningkatnya tekanan pasienan yang dialami dari penyakitnya yang kronik. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya kesulitan beradaptasi terhadap komplikasi diabetes. Tekanan psikologis meningkat pada dua tahun pertama sejak diketahui adanya retinopati diabetik. Hubungan ketidakmampuan adaptasi dengan gejala depresi ditentukan oleh beberapa faktor yaitu: a). Pandangan terhadap penyakit yang diderita. Sering ketidakmampuan dan perasaan negatif terjadi akibat pandangan yang keliru mengenai penyakit yang dideritanya; b). Dukungan sosial. Dukungan sosial yang kurang baik memperberat depresi, sementara kondisi penyakit yang buruk membatasi pasien untuk berhubungan sosial secara baik; c). Coping strategy. Dengan "copingstrategy" yang baik, pikiran untuk lari dari kenyataan dapat dihindari dan adaptasi psikologis menjadi lebih baik, sehingga mengurangi kemungkinan gejala depresi.
Hubungan Depresi dan DM


Fisher dkk, membuat rangkuman faktor psikososial yang mempengaruhi prevalensi depresi pada pasien diabetes. Depresi lebih banyak dijumpai pada: perempuan, ras minoritas, tidak menikah, umur pertengahan, status sosial ekonomi rendah dan tidak bekerja. Melihat karakteristik penyakitnya, depresi dijumpai lebih tinggi bila terdapat komorbiditas atau komplikasi, adanya riwayat depresi sebelumnya, derajat hendaya yang tinggi dan rasa nyeri yang menetap.

Description: Hubungan Depresi dan Diabetes Melitus Rating: 4.5 Reviewer: Anev ItemReviewed: Hubungan Depresi dan Diabetes Melitus

Sobat suka artikel Hubungan Depresi dan Diabetes Melitus ini dan ingin meng copy? Silahkan asal cantumkan sumber, Jika ingin mendapat kiriman artikel terbaru secara Gratis masukkan email sobat dibawah. Terimakasih
Feed KabehInfo

0 comments — Skip to Comment Box

Post a Comment