Pengobatan depresi dan diabetes dilakukan bersama-sama dengan memberikan psikoterapi, psikoedukasi dan psikofarmaka secara serentak. Pada keadaan tertentu apabila gejala diabetesnya berat, terapi diabetes didahulukan sementara terapi depresinya dimulai dengan psikoterapi dan psikoedukasi.
Cognitive-behavioral therapy (CBT) sangat bermanfaat diberikan pada pasien depresi dengan diabetes melitus dan di kombinasikan dengan edukasi diabetes. Dengan terapi ini didapatkan perbaikan depresi sebanyak 85% dibandingkan hanya 27,3% pada kontrol. Teknik terapi perilaku tersebut berupa: a). Merubah perilaku dengan mengembalikan aktivitas fisik dan kehidupan sosial yang menyenangkan pasien; b). Upaya pemecahan masalah atau stres yang dihadapi; c). Teknik kognitif dengan mengidentifikasi adanya maladaptasi dan menggantinya dengan pandangan yang akurat, adaptif dan berguna.
Pemilihan psikofarmaka untuk depresi pada diabetes melitus harus didasarkan pada pertimbangan efektivitas obat, keamanan dan efek samping serta interaksi dengan obat lain.
Beberapa obat anti depresan mempunyai pengaruh terhadap kadar gula darah. Obat anti depresi golongan trisiklik lebih banyak berefek pada norepinefrin dari pada serotonin sehingga golongan ini akan meningkatkan resistensi insulin akibatnya tentu meningkatkan kadar gula darah. Dalam jangkapanjang dapat meningkatkan gula darah puasa sampai dua kali lipat, dan gula darah menjadi sulit terkontrol.
Golongan trisiklik memiliki efek menambah nafsu makan sehingga kepatuhan diet terganggu dan dapat meningkatkan berat badan. Tentu saja obat ini tidak cocok untuk depresi pada diabetes yang gemuk. Selain itu efek sedasi dari golongan trisiklik dapat mengganggu memori dan konsentrasi sehingga juga mempengaruhi kepatuhan dalam menjalani pengobatan.
Golongan MAOI (Monoamine Oxidase Inhibitor) selain memiliki efek anti depresan juga dapat menurunkan kadar gula darah melalui mekanisme penghambatan oksidasi asam lemak rantai panjang. Tetapi pemberian obat ini kurang disukai pada diabetes karena harus membatasi tiramin sehingga pengaturan diet menjadi lebih sulit. Diketahui bahwa golongan MAOI yang klasik (isokarbosazid, fenelzin) mempunyai efek samping yang nyata yaitu hipotensi ortostastik dan krisis hipertensi yang terjadi secara sekunder melalui interaksi dengan tiramin yang terdapat pada makanan seperti keju yang dipadatkan serta daging yang disimpan lama. Oleh karena diabetes sering disertai hipertensi, pemakaian obat golongan ini tidak dianjurkan.
Ditinjau dari farmakokinetiknya pemberian golongan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor) lebih aman. Dapat mengurangi resistensi insulin sehingga gula darah dapat lebih terkontrol. Beberapa OBAT golongan SSRI seperti fluoksetin memiliki efek menurunkan berat badan sehingga baik diberikan pada diabetes yang gemuk. Efek samping yang perlu diperhatikan adalah kemungkinana terjadinya hipoglikema. Disfungsi seksual dan pasien yang disertai ganggun ginjal.

0 comments — Skip to Comment Box
Post a Comment